Assalamu’alakum,,
How
are you readers..? Hopfully Alloh is always guide us.. :)
amiin…
Pada
suatu mata kuliah Manajemen Industri kemarin, dosen saya menyinggung mengenai “Muhammad
Al-Fatih” dan kebetulan ada sebagian teman yang belum mengetahui. Oleh
karena itu saya ingin menulis sedikit mengenai cerita atau kisah Muhammad
Al-Fatih, harapannya kita dapat mengambil pelajaran darinya.
Muhammad
Al-Fatih yang dikenal juga sebagai Sultan Mehmed II adalah sosok yang paling
dinanti-nanti kedatangannya dalam sejarah Islam. Banyak sekali yang ingin
menjadi sosok seperti itu. Karena dia adalah penakluk kota Konstantinopel yaitu kota
yang hari ini dikenal dengan nama Istambul, Turki. Dulunya berada di bawah
kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Tahun 857 H / 1453 M, kota
dengan benteng legendaris tak tertembus akhirnya runtuh di tangan Sultan
Muhammad al-Fatih, sultan ke-7 Turki Utsmani.
Sultan Muhammad Tsaniy atau yang
lebih dikenal dengan Sultan Muhammad Al Fatih, dilahirkan pada tanggal 26 Rajab
tahun 833 H, bertepatan dengan tanggal 20 April 1429 M. Beliau menghabiskan
masa kecilnya di kota Adrenah. Ayah beliau, betul-betul mendidik beliau agar
menjadi seorang pemimpin kuat lagi saleh. Sultan Murad II melatih dan mendidik
anaknya itu dari segala segi. Dalam bidang kesatriaan, beliau dilatih seni
berpedang, memanah, dan keterampilan mengendarai kuda. Tidak kalah penting,
dalam bidang keagamaan, Ayah beliau mendatangkan beberapa Ulama’ pilihan di
zamannya untuk mendidik agama beliau, di antaranya adalah Syekh Ahmad bin
Ismail Al-Kuroniy, seorang pakar fikih yang juga memiliki pengetahuan yang
dalam dalam bidang ilmu Nahwu, Ma’ani, dan Bayan. Beliau adalah seorang ulama’
yang diakui keilmuannya oleh para ulama’ lainnya yang hidup di masanya. Bahkan
Muhammad al-Fatih menyebutnya sebagai “Abu Hanifah zamannya”. Di samping itu,
Muhammad al-fatih juga mewarisi sikap pemberani dan tidak mudah putus asa dari
ayahnya. Beliau mempelajari ilmu perang, strategi pertempuran, teknik mengepung
kota dan beberapa wawasan kemiliteran lainnya. Muhammad al-Fatih juga gemar
mempelajari sejarah Islam mulai dari zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam hingga zaman beliau hidup saat itu, kisah sejarah yang dipenuhi
kisah-kisah kepahlawanan dan kesatriaan para pahlawan Islam. Hal-hal yang kelak
mendukung langkah beliau dalam pertempuran untuk menaklukkan benteng
Konstantinopel.
Muhammad al-Fatih pun tumbuh
menjadi seorang pemuda yang perkasa dan saleh di bawah didikan ayah dan
guru-gurunya. Tinggi badannya sedang-sedang saja, namun anggota tubuh beliau
menceritakan keperkasaannya. Muhammad al-Fatih sangat mahir mengendarai kuda
dan pandai memainkan senjata. Beliau dikenal sebagai sosok yang pemberani, adil
dalam memutuskan perkara, dalam pengetahuan agama dan sastranya, zuhud lagi
wara’ terhadap dunia, serta memiliki pandangan ke depan yang tajam. Sang
penakluk Konstantinopel ini juga sangat rajin beribadah. Beliau jarang sekali
shalat kecuali di Masjid Jami’. Beliau juga dikenal sebagai penguasa yang dekat
dengan Ulama’.5
Semenjak kecil, Sultan Muhammad
telah mengamati upaya-upaya ayahnya, Sultan Murad II, untuk menaklukkan
Konstantinopel. Beliau juga mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat sepanjang
sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat dalam
dirinya untuk meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta -pada
usia yang sangat muda- menggantikan ayahnya pada tahun 855 H, beliau mulai
berpikir dan menyusun strategi untuk menaklukkan Konstantinopel.
Dari Abdullah bin Amru Bin Ash: "bahwa
ketika kami duduk di sekeliling Rasulullah SAW untuk menulis, beliau SAW
ditanya tentang kota manakah yang akan futuh terlebih dahulu, Konstantinopel
atau Roma. Rasulullah SAW menjawab, "Kota Heraklius terlebih dahulu
(maksudnya Konstantinopel) (HR Ahmad)
Hadist
diatas merupakan mu’jizat nabi Muhammad SAW bahwa nantinya kota Konstantinopel
akan tunduk di tangan Islam dan ini benar-benar terjadi.
Mengenai
Konstantinopel.
Konstantinopel, adalah salah satu bandar terkenal
di dunia. Semenjak kota ini didirikan oleh maharaja Bizantium yakni Constantine
I, ia sudah menyita perhatian masyarakat dunia saat itu; selain karena faktor
wilayahnya yang luas, besar bangunannya, kemegahan dan keindahan arsitekturnya,
Konstantinopel juga memiliki kedudukan yang strategis. Hal ini yang membuatnya
juga mempunyai tempat istimewa ketika umat Islam memulai perkembangannya di
masa Kekaisaran Bizantium. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah
memberikan kabar gembira tentang penguasaan kota ini ke tangan umat Islam,
seperti dinyatakan oleh beliau dalam hadistnya.
لتفتحن القسطنطينية فلنعم الأمير
أميرها ولنعم الجيش ذلك الجيش
Kalian pasti akan membebaskan
Konstantinopel, sehebat-hebat Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sekuat-kuatnya pasukan adalah pasukannya (HR Ahmad)
Dibalik kemegahan Kota ini, Konstantinopel juga
dikenal memiliki pertahanan militer yang terkenal kuat. Benteng raksasa yang
berdiri kokoh, disertai para prajurit yang siap dengan berbagai macam
senjatanya, selalu siap menyambut setiap pasukan yang hendak menyerang benteng
ini. Tidak ketinggalan, galian parit yang besar membentang mengitari benteng
ini, semakin menambah kesan bahwa kota ini mustahil ditaklukkan. Cukuplah
kegagalan-kegagalan ekspedisi jihad umat Islam sebelumnya untuk menguasai kota
ini, sebagai bukti akan ketangguhan pertahanannya. Yaitu Anadolu Hisari dan Rumeli
Hisari.
Anadolu Hisari (Sultan Bayazid I 1393-1394 M
tinggi 25 meter)
Rumeli Hisari (Sultan Muhammad II 1452 M dengan
tinggi 82 meter, dengan 5000 pekerja selesai dalam waktu 4 bulan)
Seperangkat benteng pertahanan yang
dibangun kaisar Constantine pada
abad ke-3 dan menjadi saksi
sejarah kebesaran kekaisaran Byzantium.
Namun semua ini tidak membuat semangat Sultan
Muhammad Tsaniy menjadi surut. Dengan pasukan inkisaria nya, Beliau
yakin mampu mewujudkan impian umat Islam untuk menaklukkan benteng itu. Pasukan
inkisaria adalah sekitar 7.000 pasukan
elit dengan program pelatihan terpadu
sejak kecil yang dilatih fisik,
akademis, strategi perang, ilmu ushul fiqh,
dan semua disiplin ilmu lain
Selain berbekal doa dan
tawakkal kepada Allah, beliau juga menyiapkan taktik-taktik pertempuran yang
matang disertai angkatan perang dalam jumlah besar untuk menaklukkan Konstantinopel.
Perlu diketahui readers semua
bahwa Prestasi Muhammad al-Fatih menaklukan Konstantinopel (Byzantium) saat berumur 23 tahun.
Apa prestasi kita di usia ini?
Kutipan :
“Barangsiapa
bertakwa kepada Allahniscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar Dan memberinya rezki dari arah yang tiada
disangka-sangkanya Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah
akan mencukupkannya (TQS ath-Thalaq [65] : 2-3) “